menggelar acara nonton bersama (nobar) film sejarah G30S/PKImenggelar acara nonton bersama (nobar) film sejarah G30S/PKI

MTs Ma’arif 2 Nurul Huda Adirejo – Sebagai bangsa yang besar, kita tidak boleh melupakan sejarah. Kalimat legendaris “Jasmerah” (Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah) dari Bung Karno tampaknya benar-benar diresapi oleh keluarga besar MTs Ma’arif 2 Nurul Huda Adirejo. Tepat pada tanggal 1 Oktober, madrasah ini menggelar acara nonton bersama (nobar) film tragedi besar G30S/PKI.

Kegiatan yang diikuti oleh ratusan siswa, guru, dan staf ini bukan sekadar agenda nonton biasa. Nobar ini digelar sebagai sarana edukasi visual yang interaktif agar generasi muda—khususnya para siswa di Adirejo—dapat memahami sejarah kelam G30S/PKI secara objektif dan memetik pelajaran berharga tentang pentingnya menjaga persatuan bangsa.

Mengapa tragedi yang terjadi pada tahun 1965 ini begitu penting untuk terus diingat? Bagaimana kronologi malam mencekam tersebut, dan apa pelajaran berharga yang bisa kita ambil hari ini? Mari kita ulas bersama secara mendalam.

Menolak Lupa: Latar Belakang Tragedi G30S/PKI

Untuk memahami mengapa peristiwa Gerakan 30 September (G30S) bisa meletus, kita harus kembali ke situasi politik Indonesia di awal tahun 1960-an. Pada masa itu, Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno menerapkan sistem Demokrasi Terpimpin. Soekarno berusaha menyatukan tiga kekuatan ideologi besar yang saling bersaing melalui konsep Nasakom (Nasionalisme, Agama, dan Komunisme).

Tiga poros kekuatan utama saat itu meliputi:

  1. Presiden Soekarno sebagai pemimpin besar revolusi.
  2. Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) yang berhaluan anti-komunis.
  3. Partai Komunis Indonesia (PKI) yang saat itu menjadi salah satu partai komunis terbesar di dunia di luar Uni Soviet dan Tiongkok.

Seiring berjalannya waktu, gesekan antara TNI AD dan PKI semakin meruncing. Isu-isu sensitif mulai berembus, seperti usulan PKI untuk membentuk “Angkatan Kelima” (persenjataan bagi buruh dan tani) yang ditentang keras oleh militer. Ditambah lagi dengan rumor adanya “Dewan Jenderal” yang konon berencana menggulingkan pemerintahan sah, suasana politik di Jakarta menjadi sangat panas dan dipenuhi rasa saling curiga.

Kronologi Malam Mencekam 30 September 1965

Puncaknya terjadi pada malam tanggal 30 September hingga dini hari 1 Oktober 1965. Sebuah gerakan militer yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Untung (Komandan Batalyon I Kawal Kehormatan Cakrabirawa) mulai bergerak mengepung ibu kota. Dengan dalih menyelamatkan Presiden Soekarno dari ancaman kudeta, pasukan ini melakukan aksi penculikan dan pembunuhan yang keji terhadap para perwira tinggi TNI AD.

Tujuh perwira yang gugur dan kemudian dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi tersebut adalah:

  • Jenderal Ahmad Yani (Menteri/Panglima Angkatan Darat)
  • Letnan Jenderal Suprapto
  • Letnan Jenderal S. Parman
  • Letnan Jenderal M.T. Haryono
  • Mayor Jenderal DI Panjaitan
  • Mayor Jenderal Sutoyo Siswomiharjo
  • Kapten Pierre Tendean (Ajudan Jenderal A.H. Nasution)

Sementara itu, target utama mereka, Jenderal Abdul Haris Nasution, berhasil meloloskan diri secara ajaib dengan melompati pagar rumahnya. Namun, tragedi ini menyisakan duka mendalam karena putri kecilnya yang baru berusia 5 tahun, Ade Irma Suryani Nasution, tertembak dan gugur, bersama dengan sang ajudan setia, Kapten Pierre Tendean.

Para korban penculikan dibawa ke sebuah kawasan terpencil di Jakarta Timur yang dikenal sebagai Lubang Buaya. Di sana, jenazah para perwira dimasukkan ke dalam sebuah sumur tua berdiameter sempit dan ditimbun dengan sampah serta dedaunan untuk menyembunyikan jejak kejahatan tersebut.

Penumpasan Gerakan dan Lahirnya Orde Baru

Aksi cepat segera diambil oleh Mayor Jenderal Soeharto yang saat itu menjabat sebagai Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad). Begitu menerima laporan hilangnya para jenderal, Soeharto langsung mengambil alih komando pimpinan TNI AD. Dalam waktu singkat, pasukan yang setia pada NKRI berhasil mengamankan fasilitas vital seperti RRI dan gedung telekomunikasi di Jakarta.

Pada tanggal 3 Oktober 1965, berkat petunjuk dari seorang polisi bernama Sukitman, lokasi sumur maut di Lubang Buaya akhirnya ditemukan. Proses evakuasi jenazah dilakukan dengan dramatis pada 4 Oktober 1965, dan keesokan harinya, bertepatan dengan Hari Ulang Tahun ABRI 5 Oktober, para pahlawan revolusi dimakamkan secara militer di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Peristiwa kelam ini memicu rentetan efek domino yang mengubah lanskap sejarah Indonesia secara total:

  • Pembubaran PKI: Melalui Ketetapan MPRS Nomor XXV/MPRS/1966, PKI resmi dibubarkan dan dinyatakan sebagai organisasi terlarang di seluruh wilayah Indonesia.
  • Transisi Kekuasaan: Pamor politik Orde Lama melemah. Lahirnya Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret) pada tahun 1966 menjadi jembatan bagi Soeharto untuk naik menjadi presiden dan memulai era Orde Baru.

Kesan Mendalam dari Keluarga Besar MTs Ma’arif 2 Nurul Huda Adirejo

Inisiatif MTs Ma’arif 2 Nurul Huda Adirejo dalam menggelar nonton bersama film sejarah ini menuai banyak pujian. Di tengah gempuran konten digital yang instan, mengenalkan sejarah bangsa melalui media audio-visual dinilai jauh lebih efektif bagi para siswa generasi Z dan Alpha.

Wakil Kepala Madrasah menyampaikan bahwa kegiatan ini memegang peranan krusial bagi masa depan ideologi para siswa. “Melalui visualisasi sejarah ini, kami ingin anak-anak didik kita tidak hanya sekadar tahu cerita masa lalu, tetapi benar-benar meresapi betapa mahalnya harga sebuah kedamaian dan perjuangan para pahlawan dalam mempertahankan Pancasila sebagai ideologi tunggal bangsa,” ujarnya di sela-sela acara.

Kesan mendalam juga dirasakan langsung oleh para siswa yang hadir. Salah seorang perwakilan siswa mengungkapkan rasa haru sekaligus bangganya setelah menyaksikan jalannya film. “Jujur, menonton film ini membuat saya merinding sekaligus sedih melihat perjuangan para pahlawan revolusi yang gugur. Kegiatan nobar ini menyadarkan kami semua akan pentingnya menjaga persatuan, saling menghargai, dan tidak mudah diadu domba oleh informasi yang belum jelas kebenarannya,” ungkapnya dengan penuh semangat.

Melalui kegiatan ini, pihak madrasah sukses menekankan tiga poin esensial kepada para siswa:

  • Menjaga Ideologi Pancasila: Pancasila adalah pondasi tunggal yang mampu menyatukan keberagaman suku, ras, dan agama di Indonesia.
  • Memupuk Rasa Persatuan: Mengedepankan dialog, toleransi, dan rasa persaudaraan di lingkungan sekolah maupun masyarakat untuk mencegah perpecahan.
  • Waspada terhadap Informasi Hoaks: Mengajak siswa untuk selalu kritis dalam menyaring informasi di media sosial agar tidak mudah terprovokasi.

Kesimpulan

Tragedi besar G30S/PKI adalah catatan sejarah yang penuh air mata dan darah. Namun, melupakannya bukanlah pilihan. Langkah nyata yang diambil oleh MTs Ma’arif 2 Nurul Huda Adirejo melalui acara nonton bersama pada tanggal 1 Oktober ini adalah investasi penting untuk masa depan. Dengan memahami masa lalu yang pahit, generasi muda di Adirejo akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih bijaksana, mencintai perdamaian, dan siap menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Mari kita jadikan momen peringatan sejarah ini sebagai cermin untuk memperkuat rasa nasionalisme dan memastikan bahwa persatuan bangsa adalah harga mati yang harus kita pertahankan bersama!

 

Penulis Tim Pengembang MTs Ma’arif 2 Nurul Huda