Pernahkah kamu mendengar suara letusan yang pernah mengguncang dunia? Suara itu berasal dari Gunung Krakatau pada tahun 1883. Namun, cerita tidak berhenti di situ saja. Dari abu kemusnahan tersebut, lahirlah sebuah keajaiban alam baru yang kini kita kenal sebagai Gunung Anak Krakatau.

1. Bayang-Bayang Letusan Dahsyat Krakatau 1883
Sebelum ada Anak Krakatau, di Selat Sunda berdiri megah Gunung Krakatau Tua. Pada tanggal 26–27 Agustus 1883, gunung ini meletus dengan kekuatan yang luar biasa dahsyat. Letusan ini bahkan tercatat sebagai salah satu bencana vulkanik terbesar dalam sejarah modern manusia.
  • Dahsyatnya Suara: Ledakan Krakatau terdengar hingga sejauh 4.600 kilometer, sampai ke wilayah Australia dan pulau Rodrigues dekat Afrika.
  • Tsunami Raksasa: Letusan memicu gelombang tsunami setinggi lebih dari 30 meter yang menghancurkan ratusan desa di pesisir Banten dan Lampung.
  • Langit Gelap: Debu vulkanik membumbung tinggi ke atmosfer, membuat bumi mengalami “tahun tanpa musim panas” karena sinar matahari terhalang selama berbulan-bulan.
  • Kawah Runtuh: Akibat letusan itu, tubuh gunung runtuh ke dalam laut dan membentuk kaldera besar. Yang tersisa hanyalah tiga pulau kecil: Sertung, Panjang, dan Rakata.
2. Kelahiran Sang Bayi: Munculnya Anak Krakatau (1927)
Selama puluhan tahun setelah letusan 1883, dasar laut di antara sisa pulau Krakatau mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan baru—bukan tumbuhan, melainkan aktivitas vulkanik bawah laut.
  • Kemunculan Pertama: Pada Juni 1927, para nelayan dan warga sekitar melaporkan adanya kepulan asap hitam dan batu-batu apung yang melayang dari dalam permukaan air laut di antara bekas kepundan Krakatau.
  • Muncul ke Permukaan: Pada awal tahun 1928, daratan kecil mulai benar-benar muncul di atas permukaan laut. Inilah titik awal sejarah berdirinya Gunung Anak Krakatau.
  • Sempat Tenggelam: Pada masa-masa awal, tubuh gunung ini sempat beberapa kali ambruk atau terkikis oleh ombak besar Selat Sunda sebelum akhirnya benar-benar stabil dan kokoh berdiri di atas permukaan air pada sekitar tahun 1930.
3. Pertumbuhan yang Sangat Cepat
Ada hal unik dari Gunung Anak Krakatau yang membuatnya berbeda dari gunung biasa. Pertumbuhannya tergolong sangat cepat.
  • Bertambah Tinggi Tiap Tahun: Rata-rata, tinggi gunung ini bertambah sekitar 4 hingga 6 meter setiap tahunnya karena tumpukan material erupsi berupa lava, abu, dan pasir yang terus keluar dari perut bumi.
  • Menjadi Laboratorium Alam: Para ahli biologi dan vulkanologi dari seluruh dunia berbondong-bondong datang ke sini. Mereka ingin melihat bagaimana alam merintis kehidupan baru dari nol setelah tertutup material vulkanik panas.
4. Erupsi Besar dan Tragedi Tsunami 2018
Meskipun terlihat indah dan menjadi destinasi wisata edukasi, Anak Krakatau menyimpan potensi bahaya yang nyata. Pada akhir tahun 2018, gunung ini mengalami fase erupsi yang mengubah bentuk fisiknya secara drastis.
  • Longsoran Badan Gunung: Pada 22 Desember 2018, sebagian besar tubuh bagian selatan Anak Krakatau runtuh akibat aktivitas erupsi bawah laut.
  • Tsunami Selat Sunda: Longsoran besar di dalam laut ini memicu tsunami mendadak yang menghantam pesisir Banten dan Lampung tanpa ada peringatan gempa bumi sebelumnya.
  • Kehilangan Tinggi: Akibat runtuhnya tubuh gunung tersebut, ketinggian Anak Krakatau yang awalnya mencapai sekitar 338 meter di atas permukaan laut tiba-tiba menyusut drastis menjadi sekitar 110 meter saja.
5. Status Terkini dan Aktivitas Vulkanik
Hingga saat ini, Gunung Anak Krakatau masih sangat aktif dan berada dalam pengawasan ketat oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
  • Status Waspada/Siaga: Seringkali statusnya naik-turun tergantung dari seberapa sering ia batuk mengeluarkan abu atau pijaran lava pijar.
  • Zona Larangan: Nelayan dan wisatawan dilarang mendekati kawah dalam radius beberapa kilometer demi keselamatan jiwa.
  • Simbol Ketangguhan Alam: Di balik ancamannya, gunung ini adalah bukti nyata bagaimana bumi terus bekerja membentuk daratan baru secara alami.